Ray Dalio Peringatkan Perang Modal, Emas Dinilai Paling Tahan Krisis

Ray Dalio Peringatkan Perang Modal, Emas Dinilai Paling Tahan Krisis

oleh Admin | 05 Februari 2026

Ray Dalio kembali menyoroti risiko besar di sistem keuangan global. Ia menyebut dunia berada dekat dengan “perang modal”. Istilah ini merujuk pada situasi saat uang dan akses ke sistem keuangan dipakai sebagai alat tekanan antarnegara. Dampaknya bisa terasa ke pasar obligasi, nilai tukar, arus modal, dan biaya pendanaan pemerintah.

Dalam beberapa pernyataannya di forum internasional, Dalio menilai emas tetap relevan sebagai penyimpan nilai saat ketidakpastian meningkat. Ia menyebut emas sebagai “safest money” dan menekankan bahwa fungsi lindung nilainya tidak berubah hanya karena harga bergerak harian. Ia juga menyoroti peran emas di cadangan bank sentral, yang ia anggap sebagai sinyal bahwa lembaga besar masih memperlakukan emas sebagai aset moneter.

Mengapa Dalio mengangkat isu “perang modal”? Salah satu latar utamanya adalah beban utang pemerintah dan kebutuhan pembiayaan yang besar. Saat kepercayaan terhadap surat utang suatu negara melemah, investor bisa meminta imbal hasil lebih tinggi atau mengalihkan dana ke aset lain. Dalam kondisi seperti itu, arus dana sering mencari aset yang dianggap netral terhadap kebijakan satu negara. Dalio mengaitkan dinamika ini dengan meningkatnya tensi geopolitik dan kompetisi antarblok ekonomi.

Dalio membedakan perang modal dari perang dagang. Perang dagang fokus pada barang, tarif, dan hambatan impor. Perang modal fokus pada pembatasan investasi, kontrol aliran dana, sanksi finansial, pembekuan aset, dan tekanan lewat sistem pembayaran. Jika eskalasi terjadi, pelaku pasar biasanya menaikkan preferensi pada aset yang likuid dan diterima luas lintas negara. Dalam narasi Dalio, emas masuk kategori ini.

Data perilaku pasar yang sering dibahas media juga sejalan dengan pola “risk-off”. Saat kekhawatiran meningkat, saham dan obligasi bisa tertekan, sementara emas cenderung menguat. Dalio menyebut pola ini dalam komentarnya, dan ia menekankan cara pandang emas sebagai “uang” yang diperlakukan bank sentral, bukan sekadar komoditas spekulatif.

Untuk pembaca yang ingin menerapkan wawasan ini secara praktis, ada beberapa langkah yang umum dipakai investor. Pertama, petakan sumber risiko portofolio. Misalnya eksposur besar ke satu mata uang, satu negara, atau satu kelas aset. Kedua, periksa porsi aset lindung nilai yang mudah diuangkan, termasuk instrumen yang terkait emas. Ketiga, tentukan skenario stres yang realistis, seperti lonjakan inflasi, pelemahan mata uang, atau gejolak pasar obligasi. Dalio sendiri pernah menyebut kisaran alokasi emas 5 sampai 15 persen sebagai bagian dari diversifikasi, dalam konteks menghadapi risiko sistemik dan pelemahan uang fiat.

Intinya, pesan Dalio sederhana. Ketika konflik ekonomi bergeser dari barang ke uang, perlindungan nilai menjadi prioritas. Dalam kerangka itu, emas ia nilai paling tahan krisis karena diterima luas, dipakai sebagai cadangan, dan relatif berada di luar kendali satu pemerintah. 

Tags :

#emas  #ray dalio  #ekonomi  

Bagikan :

Ikuti Sosial Media Kami!

Yuk cek profil kami dan dapatkan informasi yang menarik dari #maksimediaindonesia untuk bisnis Anda.

Ikuti Kami

Kamus Istilah Akuntansi A - Z

Mau Pintar & Jago Istilah Akuntansi? Belajar Aja di Maksi!
Kamus Akuntansi
kamus akutansi